Beliau bernama Bapak Kanapi (64). Beliau bekerja sebagai pedagang jengkol dan kuli panggul. Di samping pekerjaannya itu, beliau juga pemain kesenian ubrug (teater komedi yang umumnya didahului tarian jaipong dan iringan musik tradisional). Ia memimpin grup ubrug yang bernama Pegon Grup. Ia kerap melontarkan humor-humor lucu baik saat latihan maupun saat pementasan. Ketertarikannya pada ubrug berawal ketika dirinya mengikuti beberapa kelompok kesenian itu sebagai pemain gendang. Bapak Kanapi yang merasa memiliki bakat melucu lalu memilih peran sebagai pelawak. Beliau mengasah kemahirannya dengan membaca buku, mendengarkan kaset, dan menonton acara lawak. Lalu, Bapak Kanapi mencari-cari nama panggung. Akhirnya, nama Pegon dipilih. Alasannya sederhana karena menurut beliau, nama itu terdengar lucu. Pegon berasal dari bahasa Jawa Serang yang artinya bajak. Nama itu membawa berkah karena beliau tidak hanya tampil di Banten, tetapi juga ke provinsi lain seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Sumatera Barat. Selain itu, ia juga memainkan ubrug pada pesta pernikahan, penyambutan tamu, tujuh bulanan, peresmian gedung, pameran, festival kesenian, dan lain-lain. Pegon Grup beranggotakan 20 orang. Tidak hanya sekedar membuat penonton tertawa, ia juga menampilkan ubrug yang bermakna dengan nasihat-nasihat tentang kehidupan sehari-hari, seperti keluarga berencana, kerukunan rumah tangga, tertib berlalu lintas, hingga membuang sampah pada tempatnya.
(Sumber : Koran Kompas, Sabtu (27/04/2019)
Diksi yang digunakan yaitu musik nan merdu, tokoh sentralnya, umpan lelucon, mengocok perut, tantangan berat, memancing
(Sumber : Koran Kompas, Sabtu (27/04/2019)
Penulis artikel
Fernanda Putra Pratama

Tidak ada komentar:
Posting Komentar